Film Semesta Mengkisahkan 7 Pegiat Lingkungan

Film Semesta Mengkisahkan 7 Pegiat Lingkungan

Film dengan judul “Semesta” ini telah berhasil dirilis di awal tahun 2020. Sejak awal dirilis film ini berhasil menyita perhatian penonton. Film “Semesta” merupakan sebuah film dokumenter yang dibuat oleh Sutradara Chairun Nissa dan di produseri Mandy Marahimin serta Nicholas Saputra. Film dokumenter ini menceritakan kisah 7 tokoh yang ada di Indonesia yang peduli dengan lingkungan. Bagaimana menariknya kisah “Semesta”? dibawah ini akan diulas mengenai film “Semesta” lebih detail.

Secara garis besar film dokumenter ini mengkisahkan mengenai 7 tokoh yang peduli dengan keseimbangan alam. 7 tokoh tersebut memiliki perannya masing – masing dalam menjaga alam. 7 Tokoh tersebut juga berasal dari wilayah yang berbeda – beda. Inilah sosok 7 tokoh yang berperan di dalam film “Semesta”.

Film Semesta Mengkisahkan 7 Pegiat Lingkungan

Tokoh pertama adalah Tjokorda Raka Kerthyasa. Tokoh yang pertama ini berasal dari Ubud, Bali. Tokoh ini beserta umat Hindu lainnya dijadikan sebagai momen Hari Raya Nyepi. Hari raya ini merupakan hari dimana orang – orang harus menjaga alam dengan mengistirahatan alam. Para hari raya Nyepi ini penggunaan listrik akan dihentikan dan berbagai kegiatan industry dihentikan dalam satu hari. Perayaan hari Nyepi ini ternyata mampu memberikan efek yang luar biasa bagi pengurangan emisi sehari – harinya di Bali.

Tokoh yang ke dua adalah Agustinus Pius Inam. Sosok ini merupakan Kepala Dusun Sungai Utik yang berada di Kalimantan Barat. Dirinya selalu memastikan bahwa penduduk desa harus peduli dengan lingkungan. Sebagai Kepala Dusun dirinya akan memastikan seluruh penduduk paham dan mengikuti tata cara adat untuk melindungi alam. Bagi masyarakat di Dusun Sungaii Utik tersebut Tanah bagaikan ibu dan air bagaikan darah. Alam menjadi bagian terpenting dalam kehidupan yang harus dijaga dari berbagai ancaman kerusakan.

Tokoh yang ke tiga adalah Romo Marselus Hasan. Romo Marselus Hasan ini merupakan pimpinan agama Katolik yang berasal dari Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Kawasan tersebut termasuk kawasan yang belum teraliri listrik, hal tersebut mamaksa masyarakat sekitar untuk menggunakan generator sebagai sumber utama listrik. Bersama dengan para warna, tokoh pemimpin agama Katolik ini membangun sebuah pembangkit listrik dengan tenaga mikrohidro agar emisi yang dihasilkan tidak membahayakan lingkungan.

Tokoh yang ke empat adalah Almina Kacili. Sosok ke tiga ini merupakan kepala dari kelompok wanita generja yang terletak di Kapatcol, Papua Barat. Dirinya bersama para ibu – ibu sangat peduli dengan alam. Sosok Almina Kacili dan par ibu – ibu di Kaptacol melakukan Sasi untuk menyeimbangkan alam. Sasi adalah sebuah tradisi lokal yang bertujuan melindungi wilayah dari berbagai eksploitasi. Tradisi ini juga menjaga alam dari para nelayan yang menggunakan senjata illegal.

Tokoh yang ke lima adalah Muhammad Yusuf. Sosok seorang iman ini berasal dari Desa Pameu, Aceh. Dirinya selalu mengingatkan para penduduk untuk tidak melakukan penebangan hutan. Kegiatan penebangan hutan termasuk salah satu faktor yang mampu meningkatkan pemanasan global. Dampak dari pemanasan global ini mampu merusak habitat alami gajah liar yang ada di lokasi tersebut.

Tokoh yang ke enam adalah Iskandar Waworuntu. Iskandar memiliki sebuah komitmen untuk menjalani sebuah praktik thayyib dengan keluarganya yang bertempat tinggal di Yogyakarta. Sosok Iskandar memanfaatkan ilmu permakultur untuk bisa berkebun dan bisa berhubungan dengan alam. Iskandar bahkan berusaha untuk mengajarkan ilmu mengenai alam kepada seluruh orang yang sama – sama tertarik.

Tokoh yang ke tujuh adalah Soraya Cassandra. Soraya merupakan sosok petani yang merupakan pendiri dari Kebun Kumara tepatnya di Jakarta. Soraya melakukan berbagai hal seperti kampaye yang berisikan prinsip mengenai belajar dari alam. Dirinya mengubah tanah yang ada di kota tersebut menjadi sebuah kota yang sangat hijau. Dirinya ingin menjaga alam dan membuat bumi terlihat hijau.

Itulah 7 sosok yang diceritakan dalam film Semesta. Tujuh sosok tersebut merupakan tokoh yang peduli dengan alam. Tidak hanya menjaga alam sendirian namun mengajak keluarga dan warga sekitar untuk mulai peduli dengan alam. Mencintai alam bisa dilakukan dengan berbagai kegiatan sesuai tradisi masing – masing. Menjaga alam agar tetap hijau tentu tidak akan mudah jika dilakukan hanya sendirian. Saling bekerjasama untuk peduli alam adalah cara yang paling tepat untuk melindungi alam untuk saat ini. Film Semesta yang telah berhasil dirilis di tahun 2020 ini memang wajib untuk ditonton. Kisah 7 pengiat lingkungan tersebut diceritakan sangat mendetai. Film Semesta ini dipersembahkan oleh Nicholas Saputra untuk menjaga seluruh alam. Film ini juga dibuat di lokasi yang kental dengan alamnya dimana menceritakan 7 tokoh dari 7 provinsi yang ada di Indonesia. Tujuan adanya film ini adalah mengajak seluruh penonton untuk memiliki kesadaran lingkungan.